FENOMENA ARTISTIK DALAM AL-HADITS
Ketika Meniliti fenomena artistic dalam hadis dapat kita tangkap berbagai rahasia ekspresif dan gambaran figurative. Upaya memberikan pengertian bahwa Rasulullah saw. ddalah manusia yang telah dibekali kemampuan (Jawami’ al kalim) yaitu, berbahasa yang singkat tapi syarat akan kandungan makna, kerana beliau tidak berkata menurut hawa nafsu serta beliau mendapat pelajaran langsung dari jibril as. Jadi fenomena itu bukan sekedar untaian kata atau imajinasi belaka yang mengalir dari perasaan dan dibentuk oleh emosi individu. Karena antara signifikasi dan diksi dalam Hadis itu betul-betul saling berbaur, antara pemikiran dan gaya bahasanyapun saling bersenyawa guna mengungkap metoda Islami yang sangat relevan dan berasal dari tuntunan al-Qur’an. Maka dari segi ilmu retorika (balagah) Hadits dianggap telah mencapai puncak kepasehan, ia merupakan satu-satunya contoh gaya bahasa arab yang tepat dan berguna.
Sinar wahyu
Ar-Rafi’e telah mendeskrifsikan kepasihan Rasulullah saw secara impresif, “inilah kepasihan manusia, kebesarannya telah melumpuhkan semua ide, melemahkan jangkauan rasio, ia tidak dibuat-buat karena kepasihannya merupakan kecermatan yang tampak seperti gubahan dan kecakapan yang tiada bertele-tele. Ia dibangun oleh jiwa yang senantiasa berhubungan dengan keAgungan Pencipta Alam dan diproses oleh lisan Alqur’an, kerana sekalipun bukan wahyu tetapi dia berjalan seperti wahyu, dan sekalipun tidak ada indikasi dari wahyu namun ia merupakan dalilnya yang sangat akurat, sehingga di dalamnya tidak terdapat satu tali yang terlepas, restan yang terbuang dan tiada satu katapun yang tidak berarti…”
Memang dapat dibayangkan jika perkataan Rasulullah saw. bersenyawa dalam ilusrtrasi materi akan tampil begitu sempurna, karena ia muncul dari kebenaran, keyakinan, keaslian serta keikhlasan dan ia adalah potret pribadinya yang bening, cerah dari sinar Alqur’an. Bahkan al Jahidz melukiskan cirri-ciri artistic itu dengan gambling: “Ia adalah perkataan yang sedikit bilangan hurufnya tetapi kaya kandungan maknanya, ia bukan sulapan kata-kata, tidak bertele-tele, dapat diungkapkan secara luas dan simple, terhindar dari ungkapan aneh, kasar, rendah dan vulgar. Ia adalah perkataan yang paling berguna, benar penuturan, tepat ukuran baitnya, mempesona sapaannya, elok alirannya, indah adegan, jelas vocal dan sangat fasih substansi maknanya”.
Di Masa Sahabat :
Sejak awal para sahabat memang dianjurkan meriwayatkan Hadis. Suatu ketika Rasulullah SAW berdoa:
Para sahabat bertanya: 
Beliau menjawab: “Orang-orang yang meriwayatkan Hadis-hadisku dan mengajarkannya kepada orang lain”. Para sahabat mengakui superioritas Rasulullah dalam kefasihan serta pengetahuannya terhadap berbagai dialek bangsa Arab. Sehingga Abu Bakar ra bertanya: “Aku telah berkelana ke seluruh Arab dan mendengar para pujangga, tapi belum pernah aku dengar orang sefasih engkau, siapakah yang mengajarkanmu?”. Beliau menjawab: “Tuhanku yang mengajarkanku dengan sebaik-baik pengajaran”. Dan beliau bersabda: “Aku adalah orang arab yang paling fasih”.
Beberapa Fenomena Artistik
1. I’jaz: Pemakaian sedikit kata namun mengandung banyak arti, seperti, kata :
dalam bahasa Arab mengandung tiga arti; 
Jadi Hadis itu dapat ditangkap tiga makna: “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 Nama, barangsiapa yang menghitungNya atau mampu melaksanakan hakNya; atau mengetahui kandungan maknaNya, maka patut masuk surga”.
2.
Isti’arah (metafora): pemakaian kata yang menyatakan suatu maksud yang lain dengan makna sebenarnya, salah satu ungkapan ini seperti:
Maka ungkapan
itu isti’arah, karena maksud sebenarnya adalah:
yakni, membay’atnya dengan penuh kepatuhan dan niat yang tulus. Rasulullah memakai kata itu karena “Tsamroh”
bermakna murni dan intisari sesuatu.
3.
Kinayah (metonomia): pemakaian kata untuk nama lain yang berasosiasi atau yang menjadi atributnya, contoh;

Mereka adalah kelompok hipokrit, orang yang tidak menampakkan aslinya, sembunyi, berbicara semanis madu untuk memperdaya. Arti kata
berjalan perlahan agar binatang buruan tidak merasa hendak ditangkap, di sini dipakai menipu dunia dengan agama yaitu, mereka menjadikan dunia seperti buruan dan agama alat perangkapnya. Ini berarti kinayah dari orang yang hatinya buta, pandai berpura-pura.
4. Tasybih (tamsil): salah satu gaya bahasa guna mengkomparasi dua perkara (atau lebih) dalam karakter tertentu seperti:

Tamsil ini merupakan celaan untuk ulama, Rasulullah mengkomparasikan orang alim yang mengajar orang lain tapi tidak mengamalkan dengan sumbu pelita yang menerangi orang tapi membakar dirinya.
Penutup
Demikian, sekilas fenomena artistic dlaam Hadis, banyak contoh lain yang penulis tidak sebutkan, karena ketika ia berbicara tentang urusan dunia dan akhirat sama sekali tidak terlepas dari kondisi wahyu. Ia sebagai pensyarah Alqur’an yang hanya dapat difahami dengan bahasa Arab, tak seorangpun menyelami hakikat ini kecuali mereka yang menguasai retorika (balagah). “Omong kosong memahami tanpa Hadis tanpa kaidah bahasa Arab, maka al-Kitab (kitab Nahwu sibawaeh) adalah tangga untuk memahami Al-Kitab (Alqur’an)” demikian Abu hayyan berpesan.











MasaAllah luar biasa